Sunday, October 25, 2015

Field Trip: Asta Tinggi, Sumenep


Di depan Gerbang Timur

Setelah puas mengagumi arsitektur Masjid Agung Sumenep, kami bergegas menuju ke Asta Tinggi (Asta Tenggih klu diucapkan dengan logat Madura). Apakah itu? Asta Tinggi adalah areal pemakaman para Raja Madura dan keluarganya. Letaknya memang di dataran tinggi gitu. Kenapa kami ke Asta Tinggi? Jujur, karena penasaran, seperti apa rupa makam para Raja, thats it.

Setelah menempuh jalanan mendaki, sampai juga kami di Asta Tinggi. Kawasan makam ini sudah ada sejak tahun 1750 M, dan terdiri dari 7 kawasan:
  1. Kawasan Asta Induk, terdiri dari :
    Kubah Pangeran Pulang Jiwa
    Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III (Pangeran Akhmad atau Pangeran Jimat)
    Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saud)
    Kubah Panembahan Notokoesoemo (Mohammad Saleh)
  2. Kawasan Makam Ki Sawunggaling (pembela Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro saat terjadinya upaya kudeta/perebutan kekuasaan oleh Patih Purwonegoro)
  3. Kawasan Makam Patih Mangun
  4. Kawasan Makam Kanjeng Kai/ Raden Adipati Suroadimenggolo Bupati Semarang (mertua Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I)
  5. Kawasan makam Raden Adipati Pringgoloyo/ Moh. Saleh, dimana beliau tersebut pada masa hidupnya menjabat sebagai Patih pada Pemerintahan Panembahan Somala dan Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I
  6. Kawasan Makam Raden Tjakra Sudibyo, Patih Pensiun Sumenep
  7. Kawasan Makam Raden Wongsokusomo.
Kami hanya berhenti di Asta Induk, alias yang paling tinggi posisinya. Di dalam kawasan Asta Induk maupun di dalam Kubah, ada banyak sekali makam. Yang di dalam Kubah pastinya Rajanya sendiri, istri, anaknya, keluarganya, dll. Nah, yang di luar kubah, entahlah siapa lagi, karena ada banyaaaak sekali dan kondisinya sebagian sudah lapuk dimakan usia. Di dalam Asta Induk ada 2 gerbang besar, Gerbang Barat dan Gerbang Timur. 

Di depan Kubah Makam Panembahan Notokoesoemo

Gerbang Barat

Setelah melewati beberapa makam di kanan kiri, terdapat dua kubah makam, sebelah kiri adalah Kubah Makam Pangeran Jimat, sedangkan sebelah kanan Kubah Makam Bindara Saud.

Dari banyak makam di Asta Tinggi, yang paling terkenal adalah Bindara Saud (Tumenggung Tirtonegoro), karena beliau merupakan wali. Kewalian itu sudah tampak semenjak masih dalam kandungan. Saat itu sang Ayah datang dari luar rumah lalu mengucap salam, Bindara Saud yang masih dalam kandungan bisa menjawab salam tersebut. Bindara Saud adalah suami kedua dari Raden Ayu Tirtonegoro, satu-satunya wanita yang memimpin Sumenep sebagai adipati ke-30.

Kubah Makam yang ketiga, adalah Kubah Makam Pangeran Pulang Jiwa. Letaknya, berada paling belakang dari dua Kubah Makam milik Bindara Saud dan Pangeran Jimat.

Gerbang Timur

Setelah memasuki Gerbang Timur, sama seperti di Gerbang Barat, sebelum menuju ke Kubah Makam Panembahan Notokoesoemo, di samping kanan-kiri terdapat banyak makam.

Kawasan Asta Tinggi selalu ramai didatangi oleh peziarah dari berbagai penjuru. Oleh karena itu, kami hanya berfoto saja di Gerbang Timur *tidak sampai masuk ke dalam kubah*, lalu langsung melanjutkan perjalanan ngebolang ke tempat lain. :)

0 komentar: