
Allah menganugerahkan adik kepadaku setelah aku berumur 3 tahun tepatnya 28 Oktober 1987, adikku mempunyai nama depan yang sama denganku "Arzad", lengkapnya Arzad Sujadmiko Satria Aji, nama yang panjang kaya rel kereta Masa kecil kami lalui dengan penuh suka cita, gelak, dan tawa, tak jarang juga air mata. Sekarang dia sudah gede, sudah merantau ke tanah orang menuntut ilmu. Terakhir adikku yang paling kecil lahir, tanggal 3 Oktober 2003. Beda jauh ya sama kami berdua. Adikku yang ini perempuan nama depannya lagi lagi sama pula, "Arzad" (kayaknya dah jadi hak paten), nama lengkapnya Arzad Lintang Maharani. Keren-keren kan?? Bapak sama ibu paling jago emang pilih nama.
Keluargaku keluarga sederhana, bahkan mungkin sangat sederhana, terbayangkan bapakku hanya seorang PNS, sementara ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, dan eyangku seorang pensiunan. Namun di situ kutemukan banyak kebahagiaan dan aku sangat beruntung menjadi bagian dari mereka.
Kami tinggal di sebuah kota kecamatan di Blora, di mana jauh banget dari yang namanya kemacetan, polusi, sampah, banjir pokoknya beda banget sama kota Surabaya. Masa kecilku termasuk anak yang bandel pake banget, evident-nya masih terlihat jelas di sekitar lengan dan bagian lain dari tubuhku. Dari mulai memancing di kali, sampe pernah deh beberapa kali kesurupan (katanya mbah dukun, setan dari kali ) udah gitu ga pernah ada kapoknya lagi.
Sampai SMP aku masih berenang di desa ini, sampai ahirnya aku melanjutkan ke sekolah kejuruan tingkat atas di Purwokerto. Di sana aku menghabiskan 3 tahun umurku belajar tentang hidup, kehidupan dan keperluan hidup. Di kota ini aku mulai belajar mandiri, aku mulai belajar mengurus diriku sendiri tanpa campur tangan kedua orang tuaku. Aku juga mulai mendapatkan teman-teman baru dan dengan hobi yang baru pula. Aku mulai berpetualang di alam, mulai camping, hiking, semuanya deh. Sampai akhirnya aku lulus dan bekerja di sebuah perusahaan Telekomunikasi, dan di tempat inilah Allah mempertemukan kami
Ike Purnama Dewi

Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. Kebahagiaan yang hakiki dalam hidupku, menjadi bagian dari mereka. Kesederhanaan Ayahku yang ketika hidupnya menjadi bagian dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan, serta ibuku, wanita mulia yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga membuatku tumbuh dalam lingkungan yang hangat. Menggembleng pribadiku menjadi dewasa dan penuh strategi. Sampai ketika Ayah meninggalkan kami semua 18 Februari 2006 kemarin, aku masih bsa tegar, berdiri di kakiku sendiri menjadi penguat ibu, juga partner kakakku, sang jurnalist dan interpreneur kebanggaanku
Masa kecilku yang sangat hyperaktif kadang membuat ortu gemes, memang perempuan, tapi kelakuan mungkin hampir mirip lelaki. Hobi utama, naek pohon jambu di depan rumah lamaku, berpetualang ke waduk sampai membuat ibuku keringat dingin, keliling desa naik sepeda, ngegodain anak kecil sampe nangis, berkelahi dengan teman (lelaki) ketika aku merasa diusilin, sampai pernah membuat kepala temanku bocor terkena sambitan mautku. Biarpun begitu, prestasi akademis maupun non akademis tak mengecewakan
Salah satu ambisiku, adalah hengkang dari Blitar selepas SMP, dan Alhamdulillah akhirnya terkabul juga. Aku masuk di salah satu SMKyang mentereng di Sawojajar Malang. Di situlah aku temukan jalan kebenaran. Aku mulai memakai jilbab, dan memperbaiki diri. Banyak belajar, dari mengatur jatah bulanan, mandiri, dan sebagainya. Pesan ayahku untuk tetap bagus di sisi akademis membuat adrenalinku selalu terpacu meraih yang terbaik. Kembali aku bergelut dengan beberapa organisasi dan jadi kakak tercerewet versi adek kelasku. Prestasi non akademis juga nggak mengecewakan, setidaknya pernah juga nyumbangin piala ke sekolah tercinta
Allah memang maha pengasih, setelah lulus aku bsa langsung bekerja di salah satu perusahaan Telekomunikasi, yaaa, di tempat ini pulalahaku menemukan dia, yang kuyakini bsa bersinergi denganku untuk menggenapkan setengah dienku, Amin....
0 komentar:
Post a Comment