Saturday, September 10, 2016

Field Trip: Candi Borobudur yang Megah



Setelah puas menikmati waktu di Candi Ratu Boko, kami segera meluncur ke jantung kota Jogja. Thanks to Traveloka, kami bisa memilih Hotel sesuai keinginan. Di malam pertama kami menginap di Hotel Pandanaran, di Jl. Prawirotaman. Meskipun kamar dan kamar mandinya kecil, tapi cukup nyaman bagi kami untuk mengistirahatkan tubuh menyiapkan tenaga ngebolang lagi. Setelah sarapan pagi, kami segera meluncur ke arah Magelang. Borobuduuuurrr, we're comiiinggg. 

Setelah sekitar sejam lebih perjalanan, sampai juga kami di salah satu Candi Budha terbesar di dunia yang pernah masuk ke dalam 7 Keajaiban Dunia, yaitu Candi Borobudur. Ini adalah kali kedua bagiku dan suamiku, dan kali pertama untuk VaRo dan dek Lintang. Pertama kali berkunjung saat piknik SMP, dulu boro-boro ngerti cerita tentang Candi ini, wong ya rame-rame, waktunya terbatas pula, jadi hanya datang, keliling-keliling, menjalankan tugas dari guru buat ngobrol sama Bule yang banyak bertebaran, foto-foto *bagi yang punya kamera, which is termasuk barang mewah di tahun 90-an, aku siy nebeng foto aja, makanya ga tau hasil fotonya, karena ga tau motonya pake kamera siapa, asal ada gerombolan mo foto, ngikuuutt aja, melas*, trus pulang. 




Sekarang Borobudur banyak sekali berubah dari pertama ketemu, makin tertata dan cantik, thanks to PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko, udah mengelola tempat wisata ini dengan apik. Kami parkir di area A, which is dekat dengan pintu masuk, tapi lumayan jauh dari pintu keluar. Soal parkir memarkir ini siy optional yaa, karena memang klu mau ke Borobudur mah kudu disiapkan kaki dan nafas terbaiknya, karena klu diitung-itung entah berapa kilo total jalan kakinya. Mau parkir di dekat pintu masuk atau pintu keluar, itungan jalan kakinya sama aja, jadi klu bisa pilih, lebih baik pilihlah yang di bawah pohon, jadi rindang. Karena di Borobudur mataharinya ga pake diskon, garang! Jangan lupa, kenakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat, yang sopan juga *klu kependekan, nti dipinjemin kain batik buat nutupin*, sun blocknya jangan lupa dioles, pakai topi aja yaa daripada pake payung *biar ga ngeganggu pengunjung lain, karena rameeehhh saudaraaa*, bawa minuman dan makanan secukupnya *minum boleh di candi, makan ga boleh*, ada banyak penjaga yang dengan setia mengingatkan pengunjung yang agak agak mbalelo. Jaga kebersihan dan attitude di manapun berada, terakhir, semangaaaattttt yaaa, kudu sampe tingkat tertinggi, rugi atuh jauh-jauh dateng cuma di bawah candi aja mainnya. 


Arca satu-satunya yang tidak terkurung stupa ini menghadap ke kiblat lho


Mau dipindahin kemana, Neng?

Di Borobudur, loket pembelian tiket untuk Wisatawan Nusantara dan International dibedakan lho. Untuk Wisatawan Nusantara (Winus), harga tiket dewasa (10th ke atas) IDR.30.000, sementara tiket anak (3-10th) senilai IDR.15.000 dibayar tunai. Tiket harus disimpan selama di area candi, jangan main buang aja setelah melewati gate masuk otomatis yaa. Setelah melalui pemeriksaan tas, lalu masuk gate, ada meja untuk mendapatkan jasa guide selama di Borobudur. Kali ini, kami menggunakan jasanya, alhamdulillaah, jadi tau deh cerita tentang Borobudur ini. Memang klu berkunjung ke candi-candi seperti ini, baiknya pakai jasa guide, jadi ga hanya datang - foto - capek - pulang aja, tapi dapet ilmunya juga. Pssstt tarifnya bersahabat juga kok, 100 ribu aja pemirsah. 

Eh, 1 yang ga berubah ternyata, asongannya!!! Haduuhh, baru juga buka pintu mobil udah dikerubung 2 sampe 3 orang dari segala penjuru yang semua nawarin dagangannya. Pesenku cuma satu, jangan tergoda! Klu ga bisa nawar, bakal kena harga ga rasional. Jangan pasang muka mupeng, karena mereka bisa baca itu meskipun sudah disimpan rapi di balik wajah sok cuek. Paling aman beli di kios-kios resmi sepanjang jalan keluar, belanjanya lebih enak, harganya lebih rasional, daaan masih juga bisa ditawar klu mau. 

Mari kita bicara tentang Borobudur itu sendiri yaaa

Bentuk Borobudur melambangkan alam semesta, 10 pelatarannya menggambarkan konsep alam semesta, tingkatan alam pikiran untuk mencapai kesempurnaan dalam ajaran Budha. Dasar denah bujur sangkar adalah 123 meter di setiap sisi. Borobudur berbentuk bujur sangkar sebanyak 6 tingkat lalu dilanjutkan 3 pelataran melingkar di atasnya. Ada ribuan relief yang menceritakan banyak hal dan ratusan arca Budha yang terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama yang terbesar berada di puncak/ tengah seperti mahkota dari Candi. Dikelilingi oleh 72 stupa berlubang yang di dalamnya ada arca Budha duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dan posisi tangan tertentu yang berbeda di setiap arah mata angin.

Puncak Borobudur *pardon iklannya*

Dewi Manohara mau terbang ke Kahyangan

Ratu Maya (Ibu Sang Budha) naik kereta mau melahirkan Sang Budha.
Relief ini pernah nongol di salah satu mata uang rupiah lho, entah pecahan berapa, lupa.

Prosesi pensucian sang Budha oleh Dewa Dewi.
Ratu Maya memegang tangkai pohon Sala, cikal bakal nama Kota Solo.

Di bagian tengah keempat arah mata angin, terdapat tangga yang dijaga oleh 32 arca Singa. Untuk naik ke Candi, dimulai dari sisi timur, melingkari bangunan searah jarum jam, lalu naik ke tingkat berikutnya. Nama tingkatan itu adalah Kamadhatu (menggambarkan manusia yang masih terikat hawa nafsu), Rupadhatu (menggambarkan manusia yang sudah tidak terikat hawa nafsu tapi masih berbentuk), Arupadhatu (menggambarkan manusia yang terbebas dari hawa nafsu, rupa, dan bentuk).

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi, arsiteknya bernama Gunadharma (asli Indonesia lhoo). Diperkirakan pembangunan memakan waktu 75-100 tahun hingga benar-benar selesai saat pemerintahan Raja Samaratungga tahun 825 Masehi. Borobudur pernah terkubur dalam tanah dan debu vulkanik sebelum ditemukan lagi. Oleh karena itu, untuk anak kecil, sebaiknya jangan memegang bagian Candi lalu memasukkan ke dalam mulut, karena semua bagian Candi ini disemprot dengan insektisida supaya tidak ditumbuhi jamur dan dijadikan rumah oleh hewan-hewan kecil lain.

Batu segitu banyaknya masak iya hanya disusun aja, direkatkan pakai apa? Putih telorkah seperti konon katanya? Ternyata tidak saudara-saudara. Susunan batu Borobudur ini menggunakan sistem interlock, seperti balok lego. Ada kunci L, kunci ekor merpati, dan kunci T.


Menurut bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan abad ke-14 karena melemahnya pengaruh Kerajaan Hindu Budha di Jawa serta masuknya Islam. Candi ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa) tahun 1814. Sejak saat itu Borobudur terus dipugar dan diselamatkan, yang terbesar tahun 1975-1982 oleh Pemerintah RI dan UNESCO. Borobudur kini masuk dalam Situs Warisan Dunia. Sampai saat ini, tiap tahun Borobudur masih dijadikan tempat untuk memperingati Trisuci Waisak bersama dengan Candi Mendut dan Candi Pawon.

Jika ditarik garis lurus ke arah depan itu akan pas menuju Candi Mendut

Begitulah sekelumit kisah tentang Borobudur, sebenernya ada banyak cerita dari guide kami. Namun sayang rekamanku di tab hilang tak berbekas, dan ingatan ini begitu terbatas apalagi untuk nama-nama dan istilah yang lumayan sulit disebut. Semoga bermanfaat, daaan sempatkan mengunjungi Candi Borobudur yaa, bagus lhoo, atau klu mau nyobain ngobrol ama native speaker juga bisa banget, karena di Candi ini aneka Bule dari berbagai Negara tumplek blek ramenyaaaaa.

Cerita lebih lengkap bisa dibaca di sini yaa. Adios.. 

Ada Pokemon di Borobudur

Eh, ada Bumblebee juga rupanya

Friday, September 09, 2016

Field Trip: Terhipnotis Pesona Candi Ratu Boko


Pesona Sunset di Ratu Boko

Sudah beberapa bulan ini kami tidak ngebolang, terakhir kali ngebolang itu sebelum Ramadhan, sementara ini sudah mau Idul Adha. Alhamdulillaah, si Bapak bisa cuti dan si anak bisa mrei. Akhirnya kami bisa ngebolang lagi, yeaaayyyy. 

Tujuan ngebolang kami kali ini ke arah Jogja dan sekitarnya. Tak lupa, kami mengajak adik bontot suamiku yang masih SMP untuk turut serta mrei. Kami berangkat dari Banana City hari Kamis, lepas jam 10 malem. Sampai di rumah mertua buat jemput adik, hampir jam 3 dini hari. Langsung ndlosor tidur, dan baru keesokan harinya kami benar-benar berangkat ngebolang sekitar jam 9 pagi. 

Tujuan pertama adalah Candi Ratu Boko yang ada di seberangnya Candi Prambanan. Kenapa ga ke Prambanan? Karena kami sudah pernah ke sana, baca di sini ceritanya. Ratu Boko ini letaknya berseberangan sama Prambanan. Klu Prambanan belok kanan, Ratu Boko belok kiri. Tidak terlalu jauh letaknya dari jalan raya. Jalannya lumayan mulus, meski tidak luas. Untuk bus, parkirnya ada di bagian bawah, dan seterusnya pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga yang nyaris vertikal ke atas untuk sampai di loket tiket pembelian, dan masih naik puluhan anak tangga lagi untuk sampai ke lokasi Candi. Bagi yang menggunakan mobil pribadi masih enaklaah, mobil bisa parkir di sekitar loket pembelian di atas, sehingga cukup mendaki beberapa puluh anak tangga saja untuk menikmati keindahan Ratu Boko yang ada di puncak bukit ini. Untuk memudahkan bisa memasukkan kata kunci "Candi Ratu Boko" di Google Map/ GPS Satellitemu yaa. 

Tiket Masuk dan Parkir

Suasana jalur "pendakian" dari parkir atas ke lokasi Candi

Can u spot the temple over there?

Kami sampai sekitar jam 3 sore, saat yang tepat dan pas, baik untuk berjalan mengelilingi kompleks Candi yang ternyata luaaassss bangett (250.000 m2), maupun untuk foto-foto karena matahari sudah tidak terlalu menyengat. Semakin sore, Ratu Boko akan semakin ramai pengunjung, karena pesona sunset di gapuranya sungguh fenomenal cantiknya. Akan banyak pasukan bertongsis maupun para photographer bersenjata DSLR berbaris menunggu datangnya senja.

Peta Ratu Boko

Ternyata ada banyak bagian Candi di Ratu Boko, sementara yang sering nampang di foto-foto keren hanyalah gapuranya saja. Karena sesungguhnya Ratu Boko adalah sebuah kompleks Istana megah di jamannya, yang dibangun abad ke-8 oleh salah satu kerabat pendiri Borobudur di jaman pemerintahan Rakai Panangkaran, konon katanya Ratu Boko ini adalah Bapaknya Loro Jonggrang. Awalnya Istana ini bernama Abhayagiri Vihara (biara di bukit yang penuh kedamaian). Memang siy, di kawasan Ratu Boko ini terasa damai dan sejuk di mata saat memandang alam sekitar dari ketinggian (kurleb 196 mdpl).

Jadi yaa seperti layaknya Istana, ada beberapa bagian dari Ratu Boko ini:

TENGAH 
Gapura (luar dan utama), lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, Paseban (tempat untuk menghadap raja)

Gapura luar, dengan 3 gapura paduraksa berjajar

Gapura utama, dengan 5 gapura paduraksa

Bersantai di lapangan
Bagian tengah terlihat dari arah gardu pandang

Papan Informasi

Can you spot the top of Prambanan over there?
Papan Informasi

Mas VaRo di atas Paseban

TENGGARA
Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, kompleks Keputren

Papan Informasi

Pose dulu di depan Pendopo

TIMUR
Kompleks gua (lanang dan wadon), stupa Budha, kolam

BARAT
Perbukitan

Kami menyusuri kawasan Ratu Boko beneran dari ujung ke ujung, dari Gardu Pandang yang letaknya paling tinggi, sampai ke Pendopo yang nun jauh di seberang. Satu yang terlintas adalah, betapa seterong dan sehatnya orang jaman dulu yaa, kemana-mana jalan kaki lho, mana bajunya kan dulu ya pakai semacam jarit gitu yaa, jadi ga bisa terlalu longgar juga langkah kakinya, belum lagi medannya yang mendaki gunung lewati lembah bikin nafas ngos-ngosan. Bener-bener menguras energi, bagus buat olahraga pernafasan. 

Karena datang lebih awal, masih banyak sekali waktu menunggu sunset tiba. Ada padang rerumputan yang bisa dijadikan tempat istirahat sambil pepotoan. Dan ketika sunset tiba, ma syaa Allaah, Allaahu Akbar, beneran baguuuuussssss bangettttttt ngggeeeettt ngeeetttt. Rasanya lebih bagus menikmatinya dengan lensa mata kita sendiri dibanding lensa kamera, meskipun lensa terbagus sekalipun. Beyond my expectation. 

Fyi, Candi Prambanan, Ratu Boko, dan Borobudur dikelola oleh BUMN yang sama, yaitu PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko. Acung jempol dengan pengelolaannya, kawasan Candi ditata apik dan asri, fasilitas memadai, pokoknya sip deh. 

Naah, buat kalian yang belum pernah ke Ratu Boko, sok atuh, sempatkan. Wisata seperti ini beneran membuat fresh lahir batin. Bagus banget untuk mengingatkan diri supaya senantiasa tak putus bersyukur atas semua nikmat Allaah. Aku sudah ke Ratu Boko, kamu? 


Thursday, September 08, 2016

Operasi Gigi Bungsu


Hiiiii, judulnya udah serem aja yaaaa, tumben-tumbenan aku nulisnya cerita horor, bukan cerita lagi ngebolang kayak biasanya. Jadi begini, syahdan 2 tahun yang lalu, sekitar akhir tahun 2014, saat aku membersihkan karang gigi di dokter kantor, dikasih tau sama dokternya klu gigi bungsuku yang kiri bawah, tumbuhnya miring. Sudah diinfokan juga, klu misalnya ada keluhan, disuruh langsung ke dokter gigi aja untuk diperiksa apakah harus diambil atau tidak gigi bungsunya. Saat itu kebetulan aku belum merasakan deritanya, hanya sebatas sering selilitan aja *pardon my language*. Berselang 2 tahun kemudian, baruuu kurasakaaann bahwasanya tidak lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, karena keduanya itu sama-sama sakitnya, Jendraaaalll..!! Akhirnya kuputuskan untuk kembali konsultasi ke dokter gigi kantor lagi, supaya aku bisa mengenyahkan segala derita sakit gigi *lebay, padal baru sekali kumatnya, tapi bikin senewen ga karuan sampai minum pain killer*.  

Apa siy gigi bungsu/ wisdom teeth itu?

Gigi bungsu adalah gigi geraham paling belakang yang tumbuh terakhir sekitar usia 17-25 th. Dia tumbuh di saat yang tidak tepat, saat pertumbuhan rahang sudah berhenti, sehingga tumbuhnya abnormal karena kekurangan tempat. Klu alhamdulillaah bisa tumbuh normal ya itu namanya rejeki nomplok. Yang bisa jadi bencana di antaranya, klu tumbuhnya ke arah luar (menyerang pipi), ke arah dalam (ga lebih baik daripada yang ke arah luar), ke arah samping alias tiduran (menyerang gigi tetangganya).

Kalau misalnya timbul gejala seperti sakit kepala, telinga berdengung, sakit leher, rematik, kencing manis, gangguan jantung, gangguan pada kulit, badan cepat lelah atau gejala lain pada tubuh yang tidak bisa diobati maka gigi ini mulai dicurigai sebagai penyebab, sehingga perlu dirujuk dan ditindak tegas.  

Eh tapi, sebenernya gigi bungsu ini sudah bisa diantisipasi di usia 12-18 th. Sudah bisa dirontgen panoramic dan dicabut dini meskipun belum tumbuh, ini karena akar gigi masih pendek sehingga lebih mudah dan lebih cepat pulih pasca operasi. Maka hai kamu anak-anak muda, yang rajin ke dokter gigi yaa buat check up.

Gigiku yang bermasalah ada dalam lingkaran merah

Yang pertama harus dilakukan adalah Foto Panoramic (rontgen gigi). Sudah pernah rontgen panoramic like this? Klu belum, let me tell you. Jadi saat dirontgen, jelas harus dilepas semua perhiasan di telinga atau leher, lalu berdiri tegak, tangan memegang pegangan yang sudah disediakan, dagu dilandaskan ke landasan yang sudah tersedia (kayak pas kita tes fokus mata gituloh), lalu menggigit sesuatu (kamera kali ya itu), senyum lebar, mingkem, lidah ditekuk ke arah langit-langit, kepala dijepit, mata dipejamkan, ga boleh gerak, dan ngiiiiiiiinnngggggg, berasa kita lagi diputerin sesuatu dari arah samping kiri kepala - atas kepala - kanan kepala, dan selesai. Tunggu beberapa menit, hasilnya sudah bisa dibawa pulang. Btw, entah apa itu efek samping atau bukan, tapi pas jalan pulang agak berasa pusing dan sedikit mual.

Langkah kedua adalah ke Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut (Drg. Sp.BM). Aduh serem yaa namanya, Sp.BM ini memang salah satu dokter spesialisnya gigi yang menangani masalah operasi gigi bungsu. Jadi ga semua dokter gigi bisa yaa, harus yang Sp.BM *catet*. Nanti di Sp.BM akan dilihat hasil panoramicnya sebagai dasar melakukan tindakan. Untuk kasusku ini, karena gigi no.37 (gigi yang terseruduk gigi bungsu) sudah terdesak, bolong dan menghalagi saat mencabut gigi bungsu, maka diputuskan untuk ikutan diambil, supaya deritanya sekali aja. Huwaaaaa, rasanya shock pemirsaahh, menyiapkan mental buat operasi gigi bungsu aja ga mudah, harus ditambah musti kehilangan gigi lagi, huhuhuhuhuhu. 

Aku sempat mundur, dari periksa pertama tgl.29 Juli, dan baru dieksekusi beneran tgl.2 September. Itupun sebenernya klu ga kumat lagi bisa entah kapan tahun bakal maju lagi ke Sp.BM. Berhubung kumat lagi, akhirnya insyaf dan sadar, masak iya harus nunggu kumat sakitnya 3x baru kapok? 

Baiklah, aku mau cerita tahap ketiganya yaa, yaitu Tindakan Operasi Gigi Bungsu. Jam 4 sore aku udah di Mitra Keluarga Waru buat ambil antrian ke Sp.BM. Prakteknya siy mulai jam 5, tapi jam 4 sudah dibuka pendaftarannya. Yawis, biar ga kemaleman mending cepet cepet aja daftar. Alhamdulillaah dapet no. 3. ☺      Dokter dateng jam 17:19. Pasien mulai dipanggil, pas pasien no. 2 masuk, dokternya keluar, shalat Maghrib dulu *nilai plus*. Kamipun shalat di Mushalla Mitkel juga. Habis shalat Maghrib dan menunggu beberapa saat, no.2 keluar. Duuuhh berasa mo copot jantungku, nervous tingkat dewa. 

Begitu masuk, ngobrol bentar, tensi, ngisi dan tanda tangan formulir persetujuan tindakan, lalu jam 18:39 dokternya baca Basmalah dan mulai menunaikan tugasnya. Ada 3 suster perawat, yang 2 ikut ngeroyok diriku, satunya lagi bantu-bantu nyiapin apa yang diperlukan. Awalnya rencana mau melek aja, tahu bener saat Sp.BM mulai menyuntikkan obat bius, lalu kumur, lalu beberapa saat kemudian mangap lagi, diperiksa ini itu, tapi lama-lama makin tegang karena lihat aneka alat keluar masuk mulut, haduuhh ya udah deh merem aja, pasrah mawon. Mereka siy kayaknya santai aja sambil ngobrol gitu, sedangkan aku meremas tissue dalam diam dan jantung berdetak kencang. Berkali-kali diminta buat rileks, karena kerasa klu aku tegang, tapiiiii teteup, ga bisa santai kayak di pantai meskipun kursinya udah kayak kursi pantai. Sempat malu bangett, saking nervousnya, pas dibolehin minum di sela-sela operasi, eh minumnya ga selow, trus malah batuk-batuk, haduuhh tengsiiinnn. ðŸ˜‚

Setelah sekitar 20 menitan tapi berasa seabad mangap sampe pegel dan dipegangi suster juga, entah berapa kali suara bor mendenging bikin pusing, ngilu dan suntikan yang kayak cubitan mesra kulalui, beberapa goyangan yang menggetarkan seluruh kepala, akhirnya dijahit juga gusiku, sekilas kayak senar layangan itu benang jahit saking gedhenya. Eh ternyata aku ga pake kacamata, pantesan kelihatan gedhe, karena mataku kelewat canggih menggandakan setiap objek yang dilihatnya. Sebelum meninggalkan ruang dokter, harus dong konsultasi ini itu dulu supaya lega. Sempat dikasih tahu juga sama dokternya, karena posisi kedua gigiku itu, membuat banyak sisa makanan terperangkap sehingga susah dibersihkan dan terbentuk semacam uci-uci di antara keduanya, ini adalah biang kerok yang bikin sakit luar biasa itu. *alhamdulillaah udah dibuang*. 

Satu yang aku syukuri banget, yaitu aku udah "disangoni obat" sama Drg kantor, jadi aku bisa langsung minum di depan Sp.BM, jadi begitu semua efek obat bius habis sekitar menjelang jam 11 malam (mulut sudah berasa semua klu disentuh), alhamdulillaah ga kerasa sakit/ nyeri, tidurpun nyenyak sampai pagi.

Bye my theeth

Pertanyaannya, apakah setelah operasi gigi bungsu sudah selesai deritamu? Heheheheh, sayangnya masih belum yaaa, masih ada bagian keempat, yang kuberi judul Perawatan Pasca Operasi Gigi Bungsu. Apa sajakah ituuu?? Cekidot:

24 Jam pertama setelah operasi
- Banyak istirahat, hindari kegiatan berat.
- Hindari makanan/ minuman hangat/ panas. Lebih baik yang bersuhu ruang/ dingin.
- Makanlah makanan yang bertesktur lembut
- Tidak menggosok gigi/ kumur
- Tidak minum menggunakan sedotan 
- 12 Jam setelah operasi sudah bisa belajar buka mulut lebar, supaya luka jahitan lekas membaik.
- Akan terjadi pembengkakan pipi dan rasa tidak nyaman di mulut antara 3-14 hari
- Sering kompres dengan es, klu aku pake eye mask gel dari The Body Shop yang keluar masuk freezer. 
- Minum obat anti nyeri, anti bengkak, dan antibiotik yang diresepkan

3 Hari setelah operasi
- Hindari makanan/ minuman hangat/ panas. Lebih baik yang bersuhu ruang/ dingin.
- Tidak minum menggunakan sedotan 
- Makanlah makanan yang bertesktur lembut
- Hindari kegiatan berat
- Gosok gigi hanya pada bagian yang tidak sakit, kumur pelan di bagian yang tidak ditindak
- Waspada munculnya sariawan, efek trauma dari tindakan operasi gigi bungsu
- Kontrol ke Drg, untuk diperiksa dan dibersihkan luka operasinya

Seminggu setelah operasi
- Hindari kegiatan berat
- Sehari sebelumnya sudah boleh menggunakan obat kumur yang diresepkan Drg.
- Waspada lepasnya gumpalan darah penutup luka operasi.
- Kontrol ke Drg, untuk lepas jahitan. Aku sempat nanya ke Sp.BM, kenapa ga pakai benang jahit yang langsung jadi daging aja? Katanya, proses bersatunya benang menjadi daging butuh waktu paling tidak sebulan lamanya, selama itu, kan ga mungkin mulut dikosongin dan disterilkan, jadi malah rawan, makanya pakai benang yang dilepas supaya aman.

Sebulan setelah operasi
- Kontrol ke Drg, kecuali jika ada keluhan bisa kurang dari sebulan.
- Observasi gigi pengganti (untuk kasusku)

Naaahh, bagaimana, sudah tidak bertanya-tanya lagi kaaan, gimana proses penanganan gigi bungsu itu sebenernya? Jadiii, mau dilepas aja dari awal atau gimana enaknya? Monggo kerso, sesuai kondisi masing-masing saja. Semoga kita semua selalu dilimpahi nikmat sehat, Aamiin YRA 

PS:
Barangkali ada yang bertanya-tanya berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk semua ini? Klu aku, alhamdulillaah ditanggung sama kantor, jadi tidak keluar biaya sama sekali. Namun, sempat ngobrol sama sesama pasien yang menggunakan jasa salah satu asuransi kesehatan, untuk rontgen panoramic sekitar 250an ribu, operasi gigi bungsu sekitar 4,8 jutaan.